Rabu, 23 November 2016

Konsep Partisipasi Anggota Dalam Koperasi




EKONOMI KOPERASI
( Konsep Partisipasi Anggota Dalam Koperasi)




Nama   : 1. M. Suhartono (17214019)
                                                   2. Nita Amalia D. (17214985)
                                                   3. Rinardo Yoshi B. (19214424)
              Kelas                         : 3EA28



UNIVERSITAS GUNADARMA
FAKULTAS EKONOMI
P.T.A 2016/2017



DAFTAR ISI

Bab I Pendahuluan
            1.1 Latar Belakang                                                                              3
            1.2 Rumusan Masalah                                                                         3
            1.3 Tujuan Masalah                                                                             4
Bab II Pembahasan
            2.1 Pengertian Partisipasi                                                                    5
            2.2 Arti Pentingnya Partisipasi                                                           6
            2.3 Cara Meningkatkan Partisipasi                                                     7
            2.4 Rangsangan Partisipasi                                                                 8
            2.5 Biaya Partisipasi                                                                            8
Bab III Penutup
            Kesimpulan                                                                                         9
            Saran                                                                                                   9
Daftar Pustaka



BAB I
PENDAHULUAN
1.1            Latar Belakang
Anggota merupakan salah satu pihak yang menentukan keberhasilan sebuah Koperasi, karena berapapun besarnya biaya pembinaan yang dikeluarkan oleh pemerintah, tidak akan membuat sebuah koperasi berkembang tanpa adanya partisipasi aktif dari para anggotanya. Kedudukan anggota dalam koperasi sangat penting karena anggota sebagai pemilik (owners) dan juga merupakan pelanggan (users) bagi koperasi yang menentukan maju dan mundurnya koperasi.
Partisipasi merupakan faktor yang paling pening dalam mendukung keberhasilan atau perkembangan suatu organisasi. Dalam kehidupan koperasi, sukses tidaknya, berkembang tidaknya, bermanfaat tidaknya, dan maju mundurnya suatu koperasi akan sangat tergantung sekali pada peran partisipaspi aktif dari para anggotanya.
Dalam partisipasi, harus ada kesusaian antara anggota dan program yaitu adana kesepakatan antara kebutuhan anggota dan keluaran program koperasi. Kesusaian antara manajemen dan anggota adalah jika anggota mempenyuai kemampuan dan kemauan dalam mngemukakan hasrat kebutuhannya yang kemudian harus direflesikan atau diterjemahkan dalam keputusan menajemen. Keseuaian antara program dan manajemen adalah tugas dari program harus sesuai dengan kemampuan manajemen untuk melaksankan dan menyelesaikannya.
1.2            Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan Partisipasi ?
2.      Apa arti pentingnya Partisipasi ?
3.      Bagaimana cara meningkatkan Partisipasi ?
4.      Apa saja rangsangan Partisipasi ?
5.      Berapa biaya Partisipasi ?



1.3           Tujuan Masalah
1.      Untuk mengetahui pengertian Partisipasi
2.      Untuk mengetahui arti pentingnya Partisipasi
3.      Untuk mengetahui cara meningkatkan Partisipasi
4.      Untuk mengetahui rangsangan Partisipasi
5.      Untuk mengetahui biaya Partisipasi



BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Partisipasi
       Partisipasi masyarakat dalam perencanaan pembangunan diyakini banyak pihak telah menjadi kata kunci dalam pengembangan pembangunan di era otonomi daerah sekarang ini. Pembangunan yang melibatkan partisipasi masyarakat ternyata telah gagal menciptakan keadilan dan kesejahteraan masyarakat. Partisipasi merupakan jembatan penghubung antara pemerintah sebagai pemegang kekuasaan, kewenangan, dan kebijakan dengan masyarakat yang memiliki hak sipil, politik dan social ekonomi masyarakat. ( Eko, 2003: 8 ).
        Menurut Davis dan Newstrom (2004: ) Partisipasi adalah keterlibatan mental dan emosional orang-orang dalam situasi kelompok. Dan mendorong mereka untuk memberikan suatu kontribusi demi tujuan kelompok, dan juga berbagai tanggung jawab dalam pencapaian tujuan.
       Menurut Sajogyo (artikel :2002)  “Partisipasi” adalah suatu proses dimana sejumlah pelaku bermitra punya pengaruh dan membagi wewenang di dalam prakarsa “pembangunan”, termasuk mengambil keputusan atas sumberdaya.
Jadi pada koperasi pengertian partisipasi adalah peran serta anggota terhadapan kegiatan yang diselenggarakan koperasi.

Istilah partisipasi ini dikembang untuk menyatakan peran serta (keikutsertaan) seseorang atau sekelompok orang dalam aktivitas tertentu. Karen aitulah partisipasi anggota koperasi sangat menentukan keberhasilan koperasi. Dimensi-dimensi partisipasi di jelaskan sebagai berikut:
a. dimensi partisipasi dipandang dari sifatnya, di bagi menjadi dua yaitu:
1) Parisipasi yang dipaksa ( forced)
2) Partisipasi sukarela (foluntary)

b. dimensi partisipasi dipandangdari bentuknya, dibagi menjadi dua yaitu:
1) Partisipasi bersifat formal (formal participation)
2) Partisipasi bersifat informal (informal participation)

c. dimensi partisipasi dipandang dari pelaksanaannya terbagi menjadi dua yaitu:
1) partisipasi secara langsung
2) partisipasi secara tidak langsung

d. dimensi partisipasi dipandang dari segi kepantingan di bagi menjadi dua yaitu:
1) partisipasi kontributis (contributes participation)
2) partisipasi intensif (intensif participation)

2.2 Arti Pentingnya Partisipasi
Anggota koperasi adalah pemilik koperasi sekaligus sebagai pengguna jasa koperasi. Sebagai seorang pemilik, anggota memiliki kewajiban untuk berpartisipasi dalam penyertaan modal koperasi dengan membayar simpanan, melakukan pengawasan dan pemegang kekuasaan tertinggi dalam Rapat Anggota, sedangkan sebagai pengguna jasa atau pelanggan, anggota koperasi wajib untuk memanfaatkan fasilitas, layanan, dan jasa yang disediakan oleh koperasi. Inilah yang menjadikan anggota menjadi hal penting dalam organisasi koperasi. Akan tetapi tidak semua anggota dapat menjalankan perannya untuk berpartispasi secara aktif sebagai seorang pemilik maupun sebagai seorang pelanggan. Bahkan tidak jarang anggota koperasi yang tidak mengetahui peran atau kedudukan yang dimilikinya sebagai anggota koperasi
Hal seperti di atas tentunya sangatlah disayangkan mengingat keberhasilan koperasi dilihat dari berapa besar par-tisipasi anggota dalam menjalankan perannya sebagai anggota Koperasi. Namun, minimnya partisipasi anggota juga tidak secara mutlak merupakan kesalahan anggota dan juga koperasi. Banyak faktor yang mempengaruhi tingkat partisipasi anggota, salah satunya belum pahamnya anggota terhadap perannya di dalam koperasi atau organisasi koperasinya yang belum dapat memberikan pelayanan atau fasilitas secara maksimal kepada anggota sehingga dapat menimbulkan rasa “enggan” bagi anggota untuk menjalankan peran anggotanya. Dengan mengetahui faktor –faktor yang mempengaruhi tingkat partisipasi anggota, organisasi koperasi dapat menentukan strategi strategi yang dapat merangsang partisipasi anggota dalam menjalankan perannya.
Dalam upaya meningkatkan partisipasi anggota dapat digunakan berbagai cara yang tentunya disesuaikan dengan kondisi yang ada pada koperasi tersebut. Salah satu contohnya adalah dengan mengajak anggota untuk terlibat langsung dalam kegiatan-kegiatan di organisasi koperasi, dan juga melibatkan anggota dalam pengambilan keputusan penting di organisasi koperasi. Mengingat betapa pentingnya partisipasi anggota, organisasi koperasi diharapakan tidak lagi menunggu anggota berpartipasi secara aktif akan tetapi organisasi koperasilah yang mengajak langsung anggota untuk berpartisipasi.
2.3 Cara Meningkatkan Partisipasi
        Ada berbagai macam cara untuk dapat meningkatkan partisipasi, yang diantaranya dengan menggunakan materi atau nonmateri. Peningkatan partisipasi dengan menggunakan materi dapat melalui pemberian bonus, tunjangan, komisi dan insentif serta lainnya. Sedangkan peningkatan melalui nonmateri yaitu dengan cara memberikan suatu motivasi kepada semua komponen atau unsure yang ada dalam suatu lingkungan tertentu. Salah satu contohnya adalah dengan jalan mengikutsertakan semua komponen atau unsur, terutama dalam proses pembuatan perencanaan maupun dalam hal pengambilan keputusan.
Upaya memperbaiki partisipasi :
1. perlunya kebutuhan mengurangi kompleksitas orang.
2. bantuan auditeksternal
3. pengembangan sistem audit internal.
4. perlu ada disentralisasi dengan bentuk sub-sub koperasi berdasarkan kesamaan kebutuhan kebutuhan
5. adanya lebih satu kud di kecamatan anggota dapat melaksanakan alat partisipasinya.
Cara-cara lain untuk meningkatkan partisipasi anggota pada koperasi, yaitu :
·         Menjelaskan tentang maksud tujuan perencanaan dan keputusan yang dikeluarkan.
·         Meminta tanggapan dan saran tentang perencanaan dan keputusan yang akan dikeluarkan.
·         Meminta informasi tentang segala sesuatu dari semua komponen dalam usaha membuat keputusan dan mengambil keputusan.
·         Memberikan kesempatan yang sama kepada semua komponen atau unsur yang ada.
·         Meningkatkan pendelegasian wewenang.

2.4 Rangsangan Partisipasi
        Insentif (peranmgsang) merupakan lawan dari kontribusi (sumbangan). Berbagai perangsang dan sumbangan itu akan dievaluasi oleh anggota sesuai dengan kebutuhan, kepentingan, dan tujuan (pribadi) yang dirasakannya sebagai subyektif.
Menurut Hanel (1989) insentif dan kontribusi anggota perseorangan terhadap koperasi adalah sebagai berikut:
a.       Peningkatan pelayanan yang efisien
b.      Kontribusi keuangan anggota
c.       Partisipasi anggota dalam pengambilan keputusan

2.5 Biaya Partisipasi
         Biaya Partisipasi adalah biaya yang timbul sebagai dampak keikutsertaan anggota dalam pengelolaan koperasi. Biaya ini bukan hanya biaya penyelenggaraan rapat dan biaya perjalanan dalam rangka partisipasi, tetapi juga biaya oportunitas karena ada partisipasi. Biaya oportunitas adalah kesempatan melaksanakan proses produksi yang hilang karena adanya proses partisipasi.
        Partisipasi yang paling berhasil adalah yang efisien (perhitungan selisih antara besar biaya partisipasi dengan manfaat yang ditimbulkan oleh partisipasi tersebut) dan efektif (tujuan yang hendak dicapai oleh partisipasi dapat terlaksana dengan baik). Efektifitas dan efisiensi koperasi pada dasarnya sangat ditentukan oleh ukuran koperasi, struktur keanggotaan dan fungsi koperasi.



BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
            Dalam partisipasi, harus ada kesusaian antara anggota dan program yaitu adana kesepakatan antara kebutuhan anggota dan keluaran program koperasi. Ada berbagai macam cara untuk dapat meningkatkan partisipasi, yang diantaranya dengan menggunakan materi atau nonmateri. Peningkatan partisipasi dengan menggunakan materi dapat melalui pemberian bonus, tunjangan, komisi dan insentif serta lainnya. Sedangkan peningkatan melalui nonmateri yaitu dengan cara memberikan suatu motivasi kepada semua komponen atau unsure yang ada dalam suatu lingkungan tertentu. Biaya Partisipasi adalah biaya yang timbul sebagai dampak keikutsertaan anggota dalam pengelolaan koperasi.
3.2 Saran
Mengingat betapa pentingnya partisipasi anggota, organisasi koperasi diharapakan tidak lagi menunggu anggota berpartipasi secara aktif akan tetapi organisasi koperasilah yang mengajak langsung anggota untuk berpartisipasi.




DAFTAR PUSTAKA

http://www.lepank.com/2014/04/pengertian-partisipasi-menurut-beberapa.html?m=1
http://kopma.ugm.ac.id/pentingnya-partisipasi-anggota-dalam-koperasi/
http://daeyynala.blogspot.co.id/2015/04/partisipasi-anggota-pada-koperasi.html
http://adeeesyifa.blogspot.co.id/2014/10/cara-meningkatkan-partisipasi-anggota.html
http://pengertian-pengertian-info.blogspot.co.id/2015/05/pengertian-partisipasi-menurut-ahli.html
http://fatmawahyuningsih.blogspot.co.id/2013/02/partisipasi-anggota-dalam-koperasi.html
http://mariafransiskaajah.blogspot.co.id/2012/01/arti-partisipasi-dalam-koperasi.html


Rabu, 02 November 2016

EKONOMI KOPERASI

EKONOMI KOPERASI



Nama : 1. Muhammad Suhartono (17214019)
             2. Nita Amalia D (17214985)
             3. Rinardo Yoshi B (19214424)

Kelas  : 3EA28



UNIVERSITAS GUNADARMA
FAKULTAS EKONOMI

PTA 2016/2017



BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Masyarakat pedesaan di Indonesia umumnya sudah mengenal istilah gotong royong, hal inilah yang menjadi ciri khas yang biasanya dilakukan masyarakat pedesaan. Di Indonesia sebagian besar masyarakat yang tinggal di pedesaan memilih profesi sebagai petani khususnya di daerah perbukitan, hal ini dikarenakan sudah menjadi tradisi turun temurun mengingat Indonesia merupakan kaya akan hasil bumi.

Sementara masyarakat pedesaan yang berada di daerah pesisir pantai biasanya akan memilih profesi sebagai nelayan, karena di laut Indonesia sangatlah kaya akan sumber daya alamnya baik ikan, udang, trumbu karang dan sebagainya. Selain itu juga mereka mengembangkan budidaya dengan membuat tambak ikan sehingga hasil yang didapatkan ini bisa dipasarkan ke luar desa bahkan sampai di eksport ke luar negeri. Ini dilakukan masyarakat pedesaan yang tinggal di pesisir pantai sebagai sebuah sumber mata pencarian yang bisa mememnuhi kebutuhan hidup keluarga mereka.

Pemerataan ekonomi di Indonesia belum dapat dilaksanakan secara optimal. Masih terjadi kesenjangan sosial yang tinggi antara masyarakat kota dengan masyarakat desa. Oleh sebab itu pembangunan pedesaan menjadi prioritas utama bagi pemerintah. Hal tersebut dilakukan untuk mendorong pembangunan ekonomi Indonesia yang nantinya akan berdampak pada peningkatan perekonomian di Indonesia. Untuk menyelesaikan permasalahan tersebut pemerintah melaksanakan program pembangunan KUD.
Maju mundurnya suatu KUD bergantung pada kualitas dari SDM yang mengelolanya. Keberadaan KUD tentu saja harus dipertahankan mengingat KUD merupakan salah satu cara yang tepat dalam meningkatkan pembangunan ekonomi pedesaan.

1.2  Rumusan Masalah
1.      Bagaimana keadaan pedesaan di Indonesia ?
2.      Apa pengertian dan Luasnya Pembangunan Pedesaan ?
3.      Bagaiman Peranan KUD dalam Pembangunan Masyarakat Pedesaan ?

1.3  Tujuan Masalah
       1.      Untuk mengetahui keadaan pedesaan di Indonensia
       2.   Untuk mengetahui pengertian dan luasnya pembangunan pedesaan
       3.   Untuk mengetahui peranan KUD dalam pembangunan masyarakat pedesaaan



BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Keadaan Pedesaan di Indonesia
            Bicara tentang kondisi atau keadaan masyarakat pedesaan di Indonesia masih sangat erat kaitannya dengan adat istiadat yang mereka anut di wilayah masing-masing. Hal ini dikarenakan pedesaan di Indonesia masih menjungjung tinggi rasa kekeluargaan demi keutuhan adat istiadat yang mereka punya. Rasa kekeluargaan itu sangatlah penting dilakukan oleh masyarakat pedesaan di Indonesia, dikarenakan dengan rasa itulah akan timbul kedamaian antar warga masyarakat yang tinggal di pedesaan.
            Masyarakat pedesaan di Indonesia umumnya sudah mengenal istilah gotong royong, hal inilah yang menjadi ciri khas yang biasanya dilakukan masyarakat pedesaan. Gotong royong biasanya dilakukan oleh masyarakat pedesaan untuk mencapai tujuan bersama yang sudah direncanakan sebelumnya. Ini dilakukan agar semua masyarakat ikut terlibat dan pekerjaan yang dilakukan akan menjadi lebih ringan karena dilakukan bersama. Rasa tanggung jawab dan kekeluargaan sangatlah penting mengingat kondisi pedesaan di Indonesia saat ini masih menjungjung tinggi adat istiadatnya sehingga masyarakatnya harus mampu menjaga kekompakan agar permasalahan-permasalahan yang timbul bisa dibatasi ataupun dikendalikan. Permasalahan-permasalahan yang timbul di antara masyarakat pedesaan memang bisa terjadi, permasalahan timbul mungkin dikarenakan keberadaannya sekelompok orang yang lebih mementingkan kepentingannya sendiri daripada kepentingan bersama.
            Sementara itu dari segi kualitas kesehatan masyarakat pedesaan di Indonesia sangatlah menyedihkan, karena dari data yang telah ditemukan angka umur harapan hidup masyarakat pedesaan sangatlah rendah, selain itu juga disebabkan angka kematian pada saat melahirkan dan penyakit menular. Juga karena musim hujan yang biasanya banyak masyarakat terkena demam berdarah. Kualiatas kesehatan rendah diakibatkan oleh akses berobat yang masih jauh dari pemukiman warga, SDM (dokter, bidan, perawat) yang masih terbatas di daerah pedesaan terpencil yang memiliki akses dan medan yang sulit dicapai, tingkat pendidikan masyarakat yang masih rendang tentang pentingnya hidup sehat, dan masih kurangnya prasarana penunjang kesehatan misalkan alat-alat kesehatan, tabung oksigen dan sebagainya. Dengan melihat kenyataan ini pemerintah Indonesia harus tanggap secara cepat khususnya yang jadi sorotan adalah Menteri Kesehatan sebagai penanggungjawab atas yang dialami masyarakat pedesaan di Indonesia.
            Di Indonesia sebagian besar masyarakat yang tinggal di pedesaan memilih profesi sebagai petani khususnya di daerah perbukitan, hal ini dikarenakan sudah menjadi tradisi turun temurun mengingat Indonesia merupakan kaya akan hasil bumi. Maka dengan kesuburan tanah yang dimiliki masyarakat pedesaan akan lebih cocok mengembangkan pertanian yang mereka anggap akan mampu membantu mereka untuk bertahan hidup. Sementara masyarakat pedesaan yang berada di daerah pesisir pantai biasanya akan memilih profesi sebagai nelayan, karena di laut Indonesia sangatlah kaya akan sumber daya alamnya baik ikan, udang, trumbu karang dan sebagainya. Selain itu juga mereka mengembangkan budidaya dengan membuat tambak ikan sehingga hasil yang didapatkan ini bisa dipasarkan ke luar desa bahkan sampai di eksport ke luar negeri. Ini dilakukan masyarakat pedesaan yang tinggal di pesisir pantai sebagai sebuah sumber mata pencarian yang bisa mememnuhi kebutuhan hidup keluarga mereka. Masyarakat desa adalah suatu kesatuan manusia yang bertempat tinggal di desa dan berinteraksi menurut kepastian adat istiadat tertentu yang bersifat berulang-ulang. Adapun ciri dari masyarakat desa :
1.      Antar warga memiliki hubungan yang sangat erat
2.      Kekeluargaan dijadikan sebuah pengikat antar warga dalam kehidupan berkelompok
3.      Sebagian besar warganya menghasilkan produk pertanian untuk memenuhi kebutuhan hidupnya
4.      Kesenjangan sosial yang ada tidak terlalu besar selisihnya
5.      Kesadaran masyarakat untuk mematuhi nilai dan norma yang berlaku di wilayahnya
Sangatlah tinggi
Dalam yang dikatakan sebagai pedasaan ialah orang yang menempati suatu tempat yang ditempat tersebut tanah nya digunakan sebagai pertanian. Adapun bentuk fisik dari pedesan antara lain :
1.      Memiliki sekitar ± 1000 jumlah penduduk
2.      Kebanyakan tanah di pedesaan digunakan untuk pertanian, kecuali pedesaan yang berada di daerah pesisir pantai yang berprofesi sebagai nelayan.
3.      Di daerah pedesaan sebagaian besar jalan batu dan tanah yang menyebabkan sangat minimnya transportasi darat yang bisa melewati terutama kendaraan roda empat.
             
Tetapi di era globalisasi sekarang ini ciri-ciri tersebut sudah banyak yang mengalami perubahan dan dalam sosiologi tidak pernah mengenal kata mutlak. Dalam pelaksanaannya kita kita harus memperhatikan peraturan di desa tersebut lakukan semata mata menghormati adat isitiadat yang telah ada dan kita dapat di terima sebagai warganya. Sosiologi akan terasa apabila kita sudah terjun langsung ke desa dan berada di lingkungan pedesaan. Bagaimana sebenarnya menjadi orang desa akan kita rasakan dan bisa kita resapi dengan baik jika kita telah mengalami sendiri kesederhanaan yang mereka memiliki patut menjadi teladan bagi kita.
Di luar Jawa, daerah-daerah pedesaan jarang sekali penduduknya, potensi pertanian masih sangat luas tetapi prasarana penunjangnya masih demikian kurang. Program ekstensifikasi pertanian di daerah ini dapat dilaksanakan dengan baik. Keadaan pendidikan penduduknya pun dapat dikatakan masih rendah, sehingga sumber-sumber usaha yang tersedia banyak terabaikan.
Di pedesaan-pedesaan yang berada di daerah pantai, dimana hidup para nelayan, pada umumnya keadaan lingkungan dan tingkat pendapatan jauh lebih rendah dari daerah pedesaan lainnya. Hal ini disebabkan karena kurangnya prasarana dan saran produksi, prasarana pemasaran dan lembaga perkreditan, di samping pendidikan yang juga dapat dikatakan masih sangat rendah.
Pendidikan yang minim akan mengakibatkan kurangnya pengetahuan dalam hal memanfaatkan sumber-sumber alam yang tersedia di daerahnya, sehingga usaha-usaha penduduk di pedesaan hanya mampu menghasilkan pendapatan yang rendah, yang bagi kepentingan mencukupi kebutuhannya sehari-hari secara realitas banyak mengalami kekurangan juga. Jadi rendahnya pendidikan mempengaruhi perkembangan pedesaan yang mengakibatkan sulitnya penerimaan teknologi baru serta pembaharuan yang diperlukan bagi usaha-usaha peningkatan pendapatan dan kesejahteraan hidupnya.
Akan tetapi aspek-aspek positif yang terdapat di pedesaan yang ada yang sangat berguna dan merupakan kekuatan yang sangat ampuh bagi peningkatan usaha perekonomian dan usaha-usaha pembangunan masyarakatnya, beruntunglah masih tetap utuh, yaitu: jiwa kegotongroyongan, musyawarah dan mufakat dan semangat kekeluargaan, yang dengan pembinaan-pembinaan dan bimbingan yang mantap melalui KUD dan koperasi jenis lainnya akan segera dapat mengubah tingkat kehidupan masyarakatnya dan perubahan wajah pedesaan.
           
2.2 Pengertian dan Luasnya Pembangunan Pedesaan       

            Pembangunan pedesaan merupakan sebuah tahapan pendiskusian dan penentuan keinginan yang dilakukan oleh anggota atau masyarakat desa, setelah itu melakukan perencanaan dan pengerjaan bersama untuk mencapai tujuan tersebut.
            Sehingga pembangunan masyarakat di pedesaan merupakan spesidikasi dari pengertian community development atau pembangunan masyarakat dalam satu kesatuan, yang bertujuan agar dapat meningkatkan penghasilan dan juga taraf hidup warga masyarakat tersebut.          
            Pada dasarnya hampir seluruh masyarakat Indonesia sekitar 81% nya bertempat tinggal di pedesaan. Dan kita semua tahu bahwa hampir semua masyarakat Indonesia, terdiri atas petani, pengusaha kecil (UMKM) perajin, peternak, pedagang, dan sebagainya hampir seluruhnya tinggal di pedesaan, yang kondisi ekonominya lemah. Dan kebanyakan kehidupan mereka masih bersandar pada usaha pertanian. Namun demikian seringkali pengolahan lahan dalam pertanian oleh para petani seringkali masih dalam taraf pengolahan yang sangat memprihatinkan. . Sehingga saat pergantian ke Orde Baru pembangunan ekonomi perdesaan memperoleh fokus yang besar. Fokus dari pemerintahan Orde Baru dialihkan kepada pembangunan pedesaan. Untuk itulah pembangunan pedesaan ini digalakkan dan terus ditingkatkan untuk mendukung seluruh rakyat yang berada dalam taraf ekonomi lemah.

Inti dari tujuan pembangunan masyarakat desa:
1.      Jangka pendek: peningkatan taraf hidup masyarakat di daerah pedesaan yang cenderung berada di dalam kondisi ekonomi yang lemah.
2.      Jangka panjang: mencapai masyarakat Indonesia yang makmur dan adil sesuai Pancasila dan UUD 1495.
Alasan penyelenggaraan pembangunan di pedesaan:
1.      Jumlah penduduk yang digolongkan sebagai tenaga kerja banyak berada di pedesaan
2.      Lebih luas dan suburnya lahan pertanian yang terdapat di desa
3.      Ketersediaan bahan baku yang sangat memadai
4.      Jumlah pengangguran yang relatif banyak, dan upahnya yang relatif rendah.
5.      Merupakan pasar yang potensial bagi pemasaran produk dikarenakan jumlah penduduk yang relatif banyak.
6.      Sifat masyarakat pedesaan yang ramah mudah untuk mengajak kerjasama dapat diarahkan untuk tujuan usaha yang positif seperti koperasi

2.3 Peranan KUD dalam Pembangunan Masyarakat Pedesaan

            Pemerataan ekonomi di Indonesia belum dapat dilaksanakan secara optimal. Masih terjadi kesenjangan sosial yang tinggi antara masyarakat kota dengan masyarakat desa. Oleh sebab itu pembangunan pedesaan menjadi prioritas utama bagi pemerintah. Hal tersebut dilakukan untuk mendorong pembangunan ekonomi Indonesia yang nantinya akan berdampak pada peningkatan perekonomian di Indonesia. Untuk menyelesaikan permasalahan tersebut pemerintah melaksanakan program pembangunan KUD. KUD merupakan koperasi unit desa yang dibangun hampir disetiap desa di Indonesia. Peran KUD yang paling penting adalah membangun perekonomian pedesaan. Dengan adanya KUD tersebut diharapkan dapat menggerakan roda perekonomian pedesan yang selama ini berjalan tersendat – sendat. Kegiatan yang dilakukan oleh KUD adalah mewujudkan swasembada pangan dengan pemberian kredit dan membantu proses serta pengolahan hasil.
            Dewasa ini pembangunan KUD tidak berjalan dengan lancar. Banyak KUD yang terbengkalai karena tidak dimanfaatkan secara baik. banyak KUD yang tidak berjalan sesuai dengan fungsinya bahkan diperuntukkan untuk kepentingan pribadi atau beberapa kelompok tertentu. Maju mundurnya suatu KUD bergantung pada kualitas dari SDM yang mengelolanya. Keberadaan KUD tentu saja harus dipertahankan mengingat KUD merupakan salah satu cara yang tepat dalam meningkatkan pembangunan ekonomi pedesaan.
            Sangat pentingnya peran KUD tentu keberadaannya perlu dipertahankan. Adapun cara untuk mempertahankan KUD adalah yang pertama kita harus memberikan pendidikan kepada pemuda – pemudi desa sebagai penerus KUD dalam pemanfaatnya, kedua adalah melibatkan semua lapisan masyarakat untuk ikut bergabung menjadi anggota KUD, dan yang terakhir adalah peran serta perangkat desa dalam mengawasi pelaksanaan dan jalannya KUD. 





BAB III
PENUTUP
3.1            Kesimpulan
Pemerataan ekonomi di Indonesia belum dapat dilaksanakan secara optimal. Masih terjadi kesenjangan sosial yang tinggi antara masyarakat kota dengan masyarakat desa. Oleh sebab itu pembangunan pedesaan menjadi prioritas utama bagi pemerintah. Hal tersebut dilakukan untuk mendorong pembangunan ekonomi Indonesia yang nantinya akan berdampak pada peningkatan perekonomian di Indonesia.
3.2           Saran
Sudah sepatutnya pemerintah pusat maupun pemerintah daerah untuk melakukan pemerataan ekonomi di Indonesia. Karna, kunci dari kesejahteraan rakyat terletak pada kesenjangan ekonomi yang merata. Hal itu dapat dilakukan dengan cara pemerhatian tiap-tiap desa tentang sumber daya manusianya. Sehingga masyarakat di pedesaan pun tidak kalah saing dengan perkotaan yang sealu meningkat.



DAFTAR PUSTAKA

http://ekonomisajalah.blogspot.co.id/2015/05/keadaan-pedesaan-di-negara-kita.html